
Beberapa menit kemudian, suasana di depan mansion mulai berubah. Tawa perempuan kaya itu dan kedua temannya masih terdengar, tetapi perhatian mereka perlahan teralihkan ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki halaman dengan kecepatan pelan. Mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama. Seorang pria paruh baya turun dari kursi pengemudi dengan pakaian elegan dan ekspresi serius. Ia berjalan menuju mereka, lalu langsung memandang sepeda motor pink yang sedang disentuh oleh perempuan sombong itu. Wajahnya seketika berubah. “Siapa yang menyuruh kalian menyentuh motor itu?” tanyanya dengan nada tegas. Perempuan sombong tersebut tertawa kecil dan menjawab percaya diri, “Ini motor saya. Saya hanya sedang menunjukkannya kepada teman-teman.” Kedua temannya mengangguk seolah membenarkan perkataannya. Namun pria itu tidak ikut tersenyum. Ia justru menatap mereka dengan tatapan penuh keheranan.
Dari kejauhan, perempuan muda yang tadi dihina ternyata belum benar-benar pergi. Ia berdiri beberapa meter dari gerbang mansion sambil memperhatikan situasi dengan tenang. Pria paruh baya itu berjalan mendekati motor pink tersebut, tetapi tidak menyentuhnya. Ia melihat nomor khusus yang terpasang pada bagian depan motor, lalu mengeluarkan ponselnya. Perempuan sombong itu mulai merasa tidak nyaman. “Ada apa?” tanyanya. Pria tersebut menjawab dingin, “Saya hanya ingin memastikan sesuatu.” Ia kemudian menelepon seseorang. Tidak lama kemudian, seorang petugas keamanan mansion keluar dari dalam gedung dan berlari kecil menuju mereka. Ketika melihat motor tersebut, petugas itu langsung menundukkan kepala dengan hormat. “Pak, motor ini sudah tiba sejak pagi. Nona pemiliknya belum kembali.” Perempuan sombong itu langsung membeku. Kedua temannya saling memandang dengan gugup.
Perempuan sombong itu mencoba tertawa untuk menutupi rasa paniknya. “Tunggu dulu. Kalian salah orang. Motor ini milik saya.” Petugas keamanan menggeleng tegas. “Maaf, Nona. Motor ini terdaftar atas nama pemilik mansion.” Wajah perempuan itu berubah pucat. “Tidak mungkin.” Ia segera melihat ke arah pintu mansion, lalu berkata, “Pemilik mansion sedang berada di luar negeri.” Pria paruh baya itu akhirnya menatapnya tajam. “Benar. Pemilik mansion memang sedang berada di luar negeri.” Perempuan itu tersenyum lega, mengira dirinya sudah mendapatkan pembelaan. Namun pria tersebut melanjutkan, “Dan beliau baru saja memberi tahu saya bahwa putrinya akan datang hari ini.” Kedua teman perempuan sombong itu langsung terdiam. Mereka perlahan menoleh ke arah jalan masuk, seolah mulai menyadari sesuatu yang tidak mereka pikirkan sebelumnya.
Pada saat yang sama, perempuan muda itu berjalan kembali menuju mansion. Langkahnya tetap tenang dan tidak terburu-buru. Ia mengenakan pakaian sederhana yang sama seperti sebelumnya, tetapi kali ini semua orang mulai memperhatikannya. Perempuan sombong itu menatapnya dengan bingung. “Kamu?” katanya pelan. Perempuan muda tersebut tidak menjawab. Ia hanya berhenti di depan petugas keamanan. Petugas itu langsung tersenyum hormat dan berkata, “Selamat datang, Nona. Kami sudah menunggu kedatangan Anda.” Kedua teman perempuan sombong itu langsung saling menatap dengan mata membesar. Perempuan sombong itu tidak mampu berkata apa-apa. Ia melihat pakaian sederhana perempuan muda itu, kemudian melihat mansion, lalu kembali melihat motor pink yang sejak tadi ia klaim sebagai miliknya. Semuanya mulai terasa seperti mimpi buruk baginya.
Perempuan muda itu berjalan mendekati motor pink tersebut. Ia berhenti tepat di sampingnya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kunci motor dengan gantungan kecil berbentuk bunga muncul di tangannya. Ia menekan tombol pada kunci itu. Lampu motor pink langsung berkedip dua kali. Suasana mendadak sunyi. Tidak ada lagi tawa. Perempuan sombong itu menatap kunci tersebut dengan wajah penuh keterkejutan. “Itu...” gumamnya. Perempuan muda itu menatapnya dan berkata tenang, “Kamu tadi bertanya apakah motor ini benar-benar milikmu.” Ia kemudian mendekati motor dan menyentuh setangnya. “Sekarang kamu sudah tahu jawabannya.” Salah satu teman perempuan sombong itu menutup mulutnya karena malu. Teman yang lain langsung menundukkan kepala, tidak berani menatap perempuan muda tersebut.
Perempuan sombong itu mencoba mempertahankan harga dirinya. “Aku tidak tahu kamu siapa,” katanya dengan suara lebih pelan. Perempuan muda itu tersenyum tipis. “Memang. Karena sejak awal kamu tidak pernah mencoba mengenalku.” Ia kemudian menatap kedua teman perempuan tersebut. “Kalian tertawa ketika dia menghina pakaian saya. Kalian juga ikut menikmati saat dia mengatakan saya tidak akan pernah mampu memiliki motor seperti ini.” Kedua perempuan itu semakin gelisah. Salah satunya akhirnya berkata, “Kami minta maaf.” Perempuan muda itu tidak marah. Ia hanya menjawab, “Saya tidak membutuhkan permintaan maaf karena pakaian saya sederhana.” Ia berhenti sejenak, lalu menatap perempuan sombong itu. “Yang seharusnya kamu pelajari adalah jangan pernah mengukur nilai seseorang hanya dari apa yang mereka kenakan.”
Perempuan muda itu kemudian mengenakan helm yang diserahkan oleh petugas keamanan dan menaiki motor pink tersebut. Mesin motor menyala dengan suara halus namun bertenaga. Perempuan sombong itu berdiri kaku, sementara kedua temannya tidak lagi berani tertawa. Sebelum pergi, perempuan muda itu menurunkan kaca helmnya dan berkata, “Lain kali, sebelum mempermalukan seseorang di depan banyak orang, pastikan kamu benar-benar tahu siapa orang itu.” Ia kemudian tersenyum kecil dan melajukan motor perlahan meninggalkan mansion. Kamera mengikuti motor tersebut beberapa detik sebelum kembali memperlihatkan tiga perempuan yang masih berdiri terpaku. Perempuan sombong itu menatap tangannya sendiri, lalu menatap jalan tempat motor itu menghilang. Untuk pertama kalinya, kesombongannya benar-benar hilang. Yang tersisa hanyalah rasa malu karena orang yang ia hina sebagai perempuan biasa ternyata adalah pemilik sebenarnya dari kehidupan mewah yang selama ini ia banggakan.






