
Pria itu tetap berdiri membeku, seolah seluruh ballroom mendadak kehilangan suara. Tangannya masih menggenggam surat dan kotak kecil peninggalan ibu gadis itu. Tatapannya berpindah dari foto lama ke wajah anak kecil di depannya. Ada sesuatu dalam tatapan gadis itu yang membuat dadanya terasa sesak. Ia perlahan berlutut agar sejajar dengan wajahnya. “Siapa nama kamu?” tanyanya dengan suara bergetar. Gadis itu mengusap air matanya dan menjawab, “Namaku Alina.” Pria itu terdiam. Nama itu membuatnya teringat pada percakapan bertahun-tahun lalu dengan seorang perempuan yang pernah sangat berarti baginya. Ia menatap kembali foto tersebut. Di dalam foto, ia berdiri bersama perempuan itu di sebuah taman, tersenyum tanpa mengetahui bahwa foto tersebut suatu hari akan menjadi bukti yang mengubah hidupnya. “Ibumu tidak pernah menceritakan tentang aku?” tanyanya. Alina menggeleng pelan. “Ibu cuma bilang Ayah harus tahu kenapa kami pergi.”
Pria itu berdiri dan memandang seluruh ruangan. Para tamu masih terpaku, tetapi tidak seorang pun berani mendekat. Ia meminta para penjaga menutup pintu ballroom dan memastikan tidak ada orang luar yang masuk. Kemudian ia kembali kepada Alina. Gadis itu membuka kotak kecil tersebut dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat beberapa foto lama, sebuah gelang kecil, tiket kereta yang sudah kusam, dan sebuah kunci logam. Pria itu langsung mengenali gelang tersebut. Ia pernah membelinya sendiri bertahun-tahun lalu sebagai hadiah untuk ibu Alina. Tangannya mulai gemetar. “Dari mana ibumu mendapatkan ini?” Alina menjawab, “Ibu menyimpannya sejak malam terakhir kalian bertemu.” Pria itu menutup mata sejenak. Malam itu kembali muncul dalam ingatannya. Ia pernah menunggu perempuan tersebut selama berjam-jam, tetapi perempuan itu tidak pernah datang. Keesokan harinya, ia diberi tahu bahwa perempuan itu sudah meninggalkan Jakarta. Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa dirinya telah ditinggalkan tanpa alasan.
Alina kemudian menyerahkan sebuah amplop kecil yang tersembunyi di bawah dasar kotak. Pria itu hendak membukanya, tetapi berhenti ketika melihat tulisan tangan di bagian depannya. Ia mengenali tulisan itu dengan sangat jelas. Jarinya menyentuh nama yang tertulis di sana. “Kenapa surat ini baru diberikan kepadaku sekarang?” tanyanya. Alina menunduk. “Ibu bilang aku harus memberikannya ketika aku sudah menemukan Ayah.” Pria itu menelan ludah dan akhirnya membuka amplop tersebut. Matanya bergerak perlahan membaca beberapa baris pertama. Wajahnya berubah. Surat itu menjelaskan bahwa ibunya tidak pernah meninggalkan dirinya karena berhenti mencintainya. Ia pergi karena seseorang mengancam keselamatan mereka. Ada seseorang yang mengetahui hubungan mereka dan berusaha memastikan bahwa pria itu tidak pernah mengetahui tentang kehamilan tersebut. Pria itu membaca sampai kalimat terakhir, lalu tangannya berhenti. Di sana tertulis bahwa orang yang menyimpan rahasia terbesar tentang kelahiran Alina masih berada sangat dekat dengannya.
Pria itu segera menatap sekeliling ballroom. Para tamu berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, saling memandang dengan gelisah. Di antara mereka terdapat beberapa orang yang telah mengenalnya sejak awal kariernya. Salah satu wajah tiba-tiba menarik perhatiannya. Seorang pria tua berdiri di dekat pintu, berusaha meninggalkan ruangan. Pria itu langsung mengenalinya sebagai mantan penasihat keluarganya. “Tunggu,” katanya tegas. Pria tua itu berhenti. Alina menggenggam tangan pria tersebut. “Itu orang yang pernah datang ke rumah Ibu,” katanya pelan. Pria itu menatapnya tajam. “Kamu yakin?” Alina mengangguk. “Ibu selalu takut kalau melihatnya.” Pria itu berjalan mendekat, tetapi pria tua tersebut tidak menjawab pertanyaan apa pun. Ia hanya mengatakan bahwa semua yang dilakukan keluarga mereka dahulu adalah demi menjaga nama baik. Kalimat itu justru membuat kecurigaan semakin besar. Pria tersebut kembali ke meja dan mengambil kunci kecil dari kotak peninggalan Alina.
Ia mengenali bentuk kunci itu. Kunci tersebut cocok dengan sebuah laci rahasia di ruang kerja lama milik ayahnya, sebuah ruangan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia buka. Ia membawa Alina ke sana melalui lorong pribadi mansion. Setelah pintu terkunci, ia membuka laci tersembunyi menggunakan kunci tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah map tua yang berisi salinan dokumen kelahiran, beberapa foto, dan sebuah rekaman suara lama. Tangan pria itu gemetar ketika melihat nama Alina tercantum di salah satu dokumen. Namun yang paling mengejutkan adalah sebuah surat yang ditulis oleh ayahnya sendiri. Surat itu menyatakan bahwa keluarga mereka sudah mengetahui keberadaan Alina sejak ia lahir. Mereka sengaja menyembunyikan fakta tersebut karena takut kehilangan kendali atas perusahaan dan warisan keluarga. Pria itu menutup map dengan keras. Selama bertahun-tahun, ia mengira perempuan yang dicintainya telah meninggalkannya. Ternyata ada orang-orang yang sengaja membuatnya percaya pada kebohongan tersebut.
Alina berdiri diam di sampingnya. Ia tidak sepenuhnya memahami semua dokumen itu, tetapi ia melihat perubahan pada wajah pria tersebut. “Apakah Ibu berbohong?” tanyanya polos. Pria itu segera berlutut dan menggenggam kedua tangan Alina. “Tidak. Ibumu berusaha melindungimu.” Air matanya akhirnya jatuh. Ia menatap wajah gadis kecil itu dan untuk pertama kalinya membiarkan dirinya menerima kemungkinan bahwa anak di depannya memang putrinya. Namun ia belum mau membuat janji sebelum semuanya terbukti. Ia berkata, “Aku akan mencari seluruh kebenarannya. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi.” Alina memeluknya dengan erat. Dari luar ruangan terdengar langkah kaki mendekat, lalu berhenti tepat di depan pintu. Pria itu segera berdiri dan melindungi Alina di belakang tubuhnya. Pintu perlahan terbuka. Mantan penasihat keluarganya berdiri di sana sambil membawa satu foto lama. Ia menatap pria tersebut dan berkata bahwa ada satu hal yang belum diketahui Alina: ibunya ternyata masih menyimpan rahasia lain sebelum meninggal.
Pria itu mengambil foto tersebut dengan tangan gemetar. Foto itu memperlihatkan ibu Alina sedang berdiri di depan sebuah rumah tua, tetapi bukan sendirian. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki yang jauh lebih tua daripada Alina. Di belakang foto terdapat tanggal yang sama dengan hari ketika ibu Alina meninggalkan Jakarta. Pria itu menatap foto tersebut berkali-kali, mencoba memahami apa yang sedang dilihatnya. “Siapa anak ini?” tanyanya. Mantan penasihat itu tidak menjawab. Ia hanya meletakkan sebuah alamat di atas meja dan mengatakan bahwa jika pria tersebut ingin mengetahui seluruh kebenaran, ia harus pergi ke sana sebelum pagi. Setelah pria itu pergi, Alina memandang foto tersebut dengan bingung. Namun ketika ia menyentuh wajah anak laki-laki dalam foto, ekspresinya berubah. “Ayah...” katanya pelan. “Aku pernah melihat anak ini.” Pria itu menatapnya. Alina menunjuk foto tersebut dan berbisik, “Dia ada di salah satu foto Ibu di rumah.” Pria itu terdiam. Ia baru saja menemukan putrinya, tetapi ternyata kisah keluarganya jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.





